Jumat, 24 Juli 2015

Apa itu definisi bahagia ?kalau kita tidak mengerti tolok ukurnya.
Terlunta-lunta dalam kebahagiaan yang semu.
Mencari-cari tanpa pernah bertemu.
Menyelam ke dalam lautan tak berdasar.

Kita selalu mereka-reka semua hal.
Membanding-bandingkan dengan semua hal.
Kemudian merasa tak puas dengan semua hal.
Apa itu,bahagia?
Bagaimana mungkin bisa dikatakan  bahagia ketika kita tidak pernah merasa cukup padahal berlebih?
Bagaimana mungkin bisa dikatakan  bahagia ketika kita selalu iri dengan yang lain padahal kita lebih baik?
Bagaimana mungkin bisa dikatakan  bahagia ketika kita selalu mengeluh dan enyalahkan keadaan padahal hidup telah berbaik hati membantu kita disetip kesusahan?
Bagaimana mungkin bisa dikatakan  bahagia ketika hati selalu penuh dengan benci padahal lebih banyak kasih sayang yang kita lewatan ketimbang rasa benci itu sendiri?

Bahagia adalah melepaskan.Bahgia adalah mengikhlaskan.Bahagia adalah membiarkan.Karena bahagia tidak bisa dicari.Karena bahagia itu memilih.Dan ketika kita sudah memilih,tinggal tunggulah kapan kita dipilih takdir.

My Amazing School



 My Amazing School


Ohay! Selama ini pemikiran orang-orang  tentang sekolah berasrama atau yah lebih sering dikenal lagi dengan istilah yang lebih lumrah yakni ‘Pondok’ diidentikan dengan anak-anak kuper yang miskin teknologi,kerjaannya cuma baca kitab sambil wirid berjam-jam.Atau dengan kondisi yang serba enggak enak seperti makan yang selalu di jatah,air yang tak melimpah ruah sehingga kebanyakan anak asrama itu sering nggak mandi,dan lain-lain.Iyakan?
But Hoy                !pemikiran  seperti itu nggak akan terbersit  lagi kalau sudah menjelajah sekolah super kece yang sudah 5 tahun ini kujalani.Ihsanul Fikri.Dari namanya saja sudah dapat dikira-kira bahwa anak-anak Ihsanul Fikri memiliki pemikiran yang baik.Baik dalam akidah maupun perkembangan Ilmu pengetahuan di era yang serba modern ini.
Sekolahku terletak di desa Pabelan,kecamatan Mungkid, kabupaten Magelang,Jawa Tengah.Kalau ingin ke Candi Borobudur terus melewati Palbapang sekitar satu setengah kilometer dari jalan raya akan tampak gedung-gedung yang cukup besar dan tampak indah seperti bangunan-bangunan hotel bertingkat,maka jangan salah! Itu sekolahku.Nah lho,belum apa-apa sudah terpesonakan?
Di Ihsanul Fikri, siswa-siswi diwajibkan untuk tinggal di asrama.Di sana siswa-siswi dilatih untuk lebih mandiri mengatur segala keperluan hidupnya.Kegiatan di sekolah dan di asrama sungguh padat.Dimulai pagi hari pukul tiga para siswa-siswi harus bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud sebagai  sarana mendekatkan diri kepada Allah, kemudian sisa waktu sampai subuh digunakan untuk mandi,mencuci,atau sahur untuk shaum sunnah seperti Daud,Senin-Kamis,atau Aayamul Bid.Selepas itu shalat subuh dilaksanakan dengan berjama’ah dan langsung disambung dengan membaca Al- Ma’tsurot bersama-sama.Hey,mungkin diantara kalian ada yang bertanya kenapa Al -Ma’tsurot dilakukan dengan bacaan yang keras dan bersama-sama?bukankah sebaiknya dzikir itu dilakukan dengan suara lirih atau lebih baik dalam hati dan sendirian saja?  Itulah sarana pendidikan kawan.Semua itu dilakukan agar kita hafal bacaannya dan sebagai sarana pembiasaan diri jadi hal seperti itu boleh saja dilakukan asal dengan niatan sebagai sarana pendidikan.
Usai  Al Ma’tsurot biasanya digunakan untuk mandi bagi yang sebelum subuh belum mendapat giliran,makan,dan atau persiapan berangkat menuju sekolah.Gerbang sekolah ditutup pukul enam kurang tiga menit dan langsung melaksanakan apel pagi.Baru pukul setengah tujuh KBM dilangsungkan sampai pukul  11.50.Sampai pukul 13.10 waktu digunakan untuk melaksanakan shalat dhuhur berjama’ah,makan atau istirahat.KBM dilanjutkan lagi dimulai pukul 13.20 sampai 14.40.Selepas shalat asar,kegiatan tidak lagi dilanjutkan dengan KBM.Biasanya kegiatan ba’da asar adalah kegiatan ekstrakurikuler  pilihan seperti anggar,basket,KIR,fotografi atau ekstra wajib seperti bela diri,pramuka sampai pukul 17.00.Sesudahnya sampai maghrib waktu akan digunakan untuk mandi,istirahat,atau mengambil buka bagi yang shaum.
Makan malam dijadwalkan setelah shalat maghrib dan dzikir.Setelah makan,siswa-siswi akan kembali lagi menuju masjid untuk melaksanakan agenda wajib di masjid.Shalat isya,dzikir,hafalan,tilawah dan sebagainya sampai pukul delapan malam.Kemudian sampai pukul sepuluh malam adalah waktu bebas.Yang umum waktu digunakan untuk belajar,rapat agenda,mengerjakan tugas dan sebagainya.Benar-benar padat bukan?
Ihsanul Fikri merupakan basis pembentukan karakter islami yang kelak akan berguna bagi kehidupan yang akan datang.Sekolah menananmkan 10 karakter yang harus dimiliki kami sebagai siswa-siswi Ihsanul Fikri atau yang sering kami sebut sebagai 10 Muwashafat.Segala aturan yang diberlakukan didasarkan pada syariat islam yang mendukung pembentukan 10 karakter ini diantaranya Akidah yang lurus,ibadah yang benar,wawasan yang luas, sehat jasmani dan rohani.
Sebagai sarana ilmu pengetahuan, Ihsanul Fikri memberikan fasilitas akses informasi yang menuntun siswa-siswi untuk tetap update dalam perkembangan zaman dan kemajuan.Jadi nggak ada tuh istilah ‘anak asrama anak kuper.’  Justru sebaliknya karena penggunaan akses informasi disediakan dibatasi untuk menjauhkan diri dari kencenderungan maka siswa-siswi Ihsanul Fikri lebih selektif dan tahu mana yang harus digunakan untuk hal positif dan mana yang harus dihindari bahkan dijauhi jikan itu negative dan mengandung banyak mudharat.
Inilah kawan sekelumit ceritaku tentang sekolah super keceku.Masih banyak hal lain yang lebih seru dan terlalu sulit untuk diungkapkan dalam kata-kata.Kalau masih ada banyak hal yang ingin ditanyakan,mending kalian datangin aja deh di kampus sekolahku dan rasakan sendiri pengalaman menjadi anak asrama yang sungguh berbeda dari yang selama ini dibayangkan.Buktikan aja deh!

Senin, 06 Juli 2015

CINTA TETAP TUMBUH


Kepada gadis Palestina itu kuserahkan bunga
Ia tak bertanya, dari mana gerangan kuperolah kuntum lili itu
Ia terlalu tenggelam dalam perasaan yang megah
Seolah dunia memandangnya dengan mata berbinar
Sejenak terlupa, angin tetap mengirim debu
Pada antero derita yang ditanggungnya

Pipinya merah dadu
Sebuah paras yang luput dari lukisan perang
Bibirnya terbasuh kesumba
Oleh gemetar kata-kata yang hendak diucapkannya

Kepada gadis Palestin itu kuserahkan mahkota
Yang terbuat dari kertas surat kabar, terlampau sederhana
Lalu ia janjikan sebuah pasmina
Yang pernah berbulan-bulan menutupi rambutnya
Seolah aku, dalam tiupan angin kering ini, telah mencium
aroma wangi lehernya yang melekat di ujung rajutannya

Matanya mengandung cahaya
Tentu itu api harapan yang sengaja dinyalakan
Sebelum aku pulang, istirah dari kemelut
Seraya merasa bersalah telah meninggalkannya
Dalam marabahaya

Tapi cinta tetap tumbuh
Seperti lumut yang mendekap batu
Ah, tidak!
Seperti butir pasir yang selalu kembali ke
hamparan gurun