Senin, 06 Juli 2015

CINTA TETAP TUMBUH


Kepada gadis Palestina itu kuserahkan bunga
Ia tak bertanya, dari mana gerangan kuperolah kuntum lili itu
Ia terlalu tenggelam dalam perasaan yang megah
Seolah dunia memandangnya dengan mata berbinar
Sejenak terlupa, angin tetap mengirim debu
Pada antero derita yang ditanggungnya

Pipinya merah dadu
Sebuah paras yang luput dari lukisan perang
Bibirnya terbasuh kesumba
Oleh gemetar kata-kata yang hendak diucapkannya

Kepada gadis Palestin itu kuserahkan mahkota
Yang terbuat dari kertas surat kabar, terlampau sederhana
Lalu ia janjikan sebuah pasmina
Yang pernah berbulan-bulan menutupi rambutnya
Seolah aku, dalam tiupan angin kering ini, telah mencium
aroma wangi lehernya yang melekat di ujung rajutannya

Matanya mengandung cahaya
Tentu itu api harapan yang sengaja dinyalakan
Sebelum aku pulang, istirah dari kemelut
Seraya merasa bersalah telah meninggalkannya
Dalam marabahaya

Tapi cinta tetap tumbuh
Seperti lumut yang mendekap batu
Ah, tidak!
Seperti butir pasir yang selalu kembali ke
hamparan gurun


Tidak ada komentar:

Posting Komentar