Apa itu definisi bahagia ?kalau kita tidak mengerti tolok ukurnya.
Terlunta-lunta dalam kebahagiaan yang semu.
Mencari-cari tanpa pernah bertemu.
Menyelam ke dalam lautan tak berdasar.
Kita selalu mereka-reka semua hal.
Membanding-bandingkan dengan semua hal.
Kemudian merasa tak puas dengan semua hal.
Apa itu,bahagia?
Bagaimana mungkin bisa dikatakan bahagia ketika kita tidak pernah merasa cukup padahal berlebih?
Bagaimana mungkin bisa dikatakan bahagia ketika kita selalu iri dengan yang lain padahal kita lebih baik?
Bagaimana mungkin bisa dikatakan bahagia ketika kita selalu mengeluh dan enyalahkan keadaan padahal hidup telah berbaik hati membantu kita disetip kesusahan?
Bagaimana mungkin bisa dikatakan bahagia ketika hati selalu penuh dengan benci padahal lebih banyak kasih sayang yang kita lewatan ketimbang rasa benci itu sendiri?
Bahagia adalah melepaskan.Bahgia adalah mengikhlaskan.Bahagia adalah membiarkan.Karena bahagia tidak bisa dicari.Karena bahagia itu memilih.Dan ketika kita sudah memilih,tinggal tunggulah kapan kita dipilih takdir.
Jumat, 24 Juli 2015
My Amazing School
My Amazing School
Ohay! Selama ini pemikiran orang-orang tentang sekolah berasrama atau yah lebih
sering dikenal lagi dengan istilah yang lebih lumrah yakni ‘Pondok’ diidentikan
dengan anak-anak kuper yang miskin teknologi,kerjaannya cuma baca kitab sambil
wirid berjam-jam.Atau dengan kondisi yang serba enggak enak seperti makan yang
selalu di jatah,air yang tak melimpah ruah sehingga kebanyakan anak asrama itu
sering nggak mandi,dan lain-lain.Iyakan?
But Hoy !pemikiran seperti itu nggak akan terbersit lagi kalau sudah menjelajah sekolah super kece
yang sudah 5 tahun ini kujalani.Ihsanul Fikri.Dari namanya saja sudah dapat
dikira-kira bahwa anak-anak Ihsanul Fikri memiliki pemikiran yang baik.Baik
dalam akidah maupun perkembangan Ilmu pengetahuan di era yang serba modern ini.
Sekolahku terletak di desa Pabelan,kecamatan Mungkid,
kabupaten Magelang,Jawa Tengah.Kalau ingin ke Candi Borobudur terus melewati
Palbapang sekitar satu setengah kilometer dari jalan raya akan tampak
gedung-gedung yang cukup besar dan tampak indah seperti bangunan-bangunan hotel
bertingkat,maka jangan salah! Itu sekolahku.Nah lho,belum apa-apa sudah
terpesonakan?
Di Ihsanul Fikri, siswa-siswi diwajibkan untuk tinggal di
asrama.Di sana siswa-siswi dilatih untuk lebih mandiri mengatur segala keperluan
hidupnya.Kegiatan di sekolah dan di asrama sungguh padat.Dimulai pagi hari
pukul tiga para siswa-siswi harus bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud
sebagai sarana mendekatkan diri kepada
Allah, kemudian sisa waktu sampai subuh digunakan untuk mandi,mencuci,atau
sahur untuk shaum sunnah seperti Daud,Senin-Kamis,atau Aayamul Bid.Selepas itu shalat subuh dilaksanakan dengan berjama’ah dan langsung disambung dengan
membaca Al- Ma’tsurot
bersama-sama.Hey,mungkin diantara kalian ada yang bertanya kenapa Al -Ma’tsurot dilakukan dengan bacaan
yang keras dan bersama-sama?bukankah sebaiknya dzikir itu dilakukan dengan
suara lirih atau lebih baik dalam hati dan sendirian saja? Itulah sarana pendidikan kawan.Semua itu
dilakukan agar kita hafal bacaannya dan sebagai sarana pembiasaan diri jadi hal
seperti itu boleh saja dilakukan asal dengan niatan sebagai sarana pendidikan.
Usai Al Ma’tsurot biasanya digunakan untuk
mandi bagi yang sebelum subuh belum mendapat giliran,makan,dan atau persiapan
berangkat menuju sekolah.Gerbang sekolah ditutup pukul enam kurang tiga menit
dan langsung melaksanakan apel pagi.Baru pukul setengah tujuh KBM dilangsungkan
sampai pukul 11.50.Sampai pukul 13.10
waktu digunakan untuk melaksanakan shalat dhuhur berjama’ah,makan atau istirahat.KBM
dilanjutkan lagi dimulai pukul 13.20 sampai 14.40.Selepas shalat asar,kegiatan
tidak lagi dilanjutkan dengan KBM.Biasanya kegiatan ba’da asar adalah kegiatan
ekstrakurikuler pilihan seperti
anggar,basket,KIR,fotografi atau ekstra wajib seperti bela diri,pramuka sampai
pukul 17.00.Sesudahnya sampai maghrib waktu akan digunakan untuk
mandi,istirahat,atau mengambil buka bagi yang shaum.
Makan malam dijadwalkan setelah shalat maghrib dan
dzikir.Setelah makan,siswa-siswi akan kembali lagi menuju masjid untuk
melaksanakan agenda wajib di masjid.Shalat isya,dzikir,hafalan,tilawah dan
sebagainya sampai pukul delapan malam.Kemudian sampai pukul sepuluh malam
adalah waktu bebas.Yang umum waktu digunakan untuk belajar,rapat
agenda,mengerjakan tugas dan sebagainya.Benar-benar padat bukan?
Ihsanul Fikri merupakan basis pembentukan karakter islami
yang kelak akan berguna bagi kehidupan yang akan datang.Sekolah menananmkan 10
karakter yang harus dimiliki kami sebagai siswa-siswi Ihsanul Fikri atau yang
sering kami sebut sebagai 10 Muwashafat.Segala
aturan yang diberlakukan didasarkan pada syariat islam yang mendukung
pembentukan 10 karakter ini diantaranya Akidah yang lurus,ibadah yang
benar,wawasan yang luas, sehat jasmani dan rohani.
Sebagai sarana ilmu pengetahuan, Ihsanul Fikri memberikan
fasilitas akses informasi yang menuntun siswa-siswi untuk tetap update dalam
perkembangan zaman dan kemajuan.Jadi nggak ada tuh istilah ‘anak asrama anak
kuper.’ Justru sebaliknya karena
penggunaan akses informasi disediakan dibatasi untuk menjauhkan diri dari
kencenderungan maka siswa-siswi Ihsanul Fikri lebih selektif dan tahu mana yang
harus digunakan untuk hal positif dan mana yang harus dihindari bahkan dijauhi
jikan itu negative dan mengandung banyak mudharat.
Inilah kawan sekelumit ceritaku tentang sekolah super
keceku.Masih banyak hal lain yang lebih seru dan terlalu sulit untuk
diungkapkan dalam kata-kata.Kalau masih ada banyak hal yang ingin
ditanyakan,mending kalian datangin aja deh di kampus sekolahku dan rasakan sendiri
pengalaman menjadi anak asrama yang sungguh berbeda dari yang selama ini
dibayangkan.Buktikan aja deh!
Senin, 06 Juli 2015
CINTA TETAP TUMBUH
Kepada gadis Palestina itu kuserahkan bunga
Ia tak bertanya, dari mana gerangan kuperolah kuntum lili itu
Ia terlalu tenggelam dalam perasaan yang megah
Seolah dunia memandangnya dengan mata berbinar
Sejenak terlupa, angin tetap mengirim debu
Pada antero derita yang ditanggungnya
Pipinya merah dadu
Sebuah paras yang luput dari lukisan perang
Bibirnya terbasuh kesumba
Oleh gemetar kata-kata yang hendak diucapkannya
Kepada gadis Palestin itu kuserahkan mahkota
Yang terbuat dari kertas surat kabar, terlampau sederhana
Lalu ia janjikan sebuah pasmina
Yang pernah berbulan-bulan menutupi rambutnya
Seolah aku, dalam tiupan angin kering ini, telah mencium
aroma wangi lehernya yang melekat di ujung rajutannya
Matanya mengandung cahaya
Tentu itu api harapan yang sengaja dinyalakan
Sebelum aku pulang, istirah dari kemelut
Seraya merasa bersalah telah meninggalkannya
Dalam marabahaya
Tapi cinta tetap tumbuh
Seperti lumut yang mendekap batu
Ah, tidak!
Seperti butir pasir yang selalu kembali ke
hamparan gurun
Langganan:
Postingan (Atom)